Blog

  • Bung Hatta di Mata Kwik Kian Gie

    Artikel — Dokumentasi

    Bung Hatta di Mata Kwik Kian Gie

    Penampilan Bung Hatta bersama Kwik Kian Gie dalam acara Jaya Suprana Show menjadi salah satu dokumentasi bersejarah tentang sosok Hatta — bukan hanya sebagai negarawan, tetapi juga sebagai pribadi yang hangat dan penuh humor. Cuplikan ini dipertahankan dari arsip situs lama Yayasan Proklamator Bung Hatta.

    Tonton langsung di YouTube.

  • Hatta dan Demokrasi Kita

    Oleh Arif Susanto — Analis Politik Exposit Strategic, pegiat Lingkaran Jakarta

    Setelah empat puluh tahun wafatnya Mohammad Hatta, kita terpaksa kembali tertunduk. Bukan untuk terus meratapi kepergian salah satu pendiri negara tersebut, melainkan untuk memprihatini betapa warisan gagasan kedaulatan rakyat yang turut dicanangkannya ternyata belum kunjung mampu kita wujudkan.

    Menafsir pemikiran Hatta perlu diletakkan sebagai bagian dialog peristiwa masa lalu dan tujuan masa datang. Hal ini agar kita memiliki cermin untuk berintrospeksi dan menata langkah perbaikan demokrasi kontemporer Indonesia.

    Payung dan Pengarah

    Ketika wafat pada 14 Maret 1980, Mohammad Hatta meninggalkan peran tak tergantikan dalam lanskap politik nasional. Bukan hanya sebagai ko-proklamator bersama Soekarno, di antara berbagai gejolak politik sepanjang hayatnya, Hatta meniti buih dengan menjaga konsistensi untuk tetap berpolitik secara santun sekaligus etis dalam keriangan khasnya.

    Kini, empat puluh tahun setelahnya, dalam kompleksitas demokrasi, kita masih merindukan kehadiran politikus cum negarawan setara Mohammad Hatta (1902-1980). Bukan sekadar romantisisme untuk meratapi kehilangan, melainkan untuk menghidupkan wawasan kenegaraan sang politikus pejuang dengan berlimpah kontribusi bagi Indonesia tersebut.

    Secara intim, Meutia Farida Hatta (2016) menggambarkan sang ayah sebagai “payung dan pengarah hidup”. Hatta mengguyurkan pengetahuan, menanamkan keutamaan, serta memainkan peran yang tidak mudah di antara kehidupan personal dan sosialnya. Dengan itu semua, Hatta tidak semata pelindung, tetapi juga suar penuntun yang belum kunjung padam.

    Tidak semua dianugerahi keistimewaan untuk hidup bersama, apalagi untuk mencerna secara langsung laku etis Hatta. Namun, terlalu sempit untuk memahami Hatta sebagai sekadar payung dan pengarah hidup keluarganya. Sebab, dengan kontribusi yang begitu besar di dalam maupun di luar kekuasaan, Hatta turut melindungi dan mengarahkan bangsa.

    Dalam gelegak tekad untuk memperjuangkan kemerdekaan nasional, Hatta membawa kedalaman berikut ketenangan. Risalahnya “Indonesia dan Problem Kemerdekaannya” menggugah kesadaran internasional pada 1927. Analisisnya “Indonesia Merdeka” meninju kerapuhan dakwaan pengadilan Den Haag 1928 terhadapnya sebagai seorang penghasut.

    Kepeloporan Hatta terpacak bukan semata dalam tulisan-tulisannya; tindakan-tindakan politik strategis adalah pula teks-teks perjuangannya. Pendidikan Nasional yang digagasnya menyelamatkan PNI dari kebangkrutan pada 1931. Sementara sikap moderatnya terhadap dinamika internasional memberi peluang lebih baik kemerdekaan Indonesia pada 1945.

    Hatta juga memberi teladan tentang bagaimana mendayung di antara karang-karang dan bertahan untuk tidak terbawa arus. Penuh perhitungan dan integritas, Hatta adalah seorang patriot yang tidak hendak menggadaikan kebebasan dan kedaulatan. Seperti ditegaskannya, di atas segala lapangan tanah air, Hatta selalu hidup dan gembira.

    Kedaulatan Rakyat

    EH Carr (1892-1982) menulis bahwa dalam gerak majunya, sejarah merupakan suatu dialog antara peristiwa masa lalu dan tujuan masa datang. Interpretasi peristiwa, dengan begitu, tidak hanya mengafirmasi atau menegasi apa yang terjadi, melainkan bagian upaya menemukan relevansi dengan membuhulkannya secara progresif pada tujuan-tujuan baru.

    Ketika gagasan Indonesia merdeka masih dalam masa pembentukannya, Hatta memberi fondasi penting, antara lain pada prinsip kedaulatan rakyat, yang disebutnya sebagai jantung hati bangsa. Rakyat yang berdaulat memiliki keinsafan tentang kemerdekaan mereka, dan dengan bekal kesadaran itu mereka diharapkan mampu memandu gerak para pemimpin.

    Inilah suatu visi tentang “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” yang diidealkan sebagai bagian esensial demokrasi Indonesia. Relevansi gagasan visioner ini menghujam ke akar kemerdekaan dan menjulang jauh ke arah demokrasi terkonsolidasi. Artinya pula, visi ini patut menjadi basis pembangunan demokrasi Indonesia kontemporer.

    Politik nasional terdengar riuh bukan oleh diskursus, tetapi oleh polarisasi terdampak kontestasi elektoral, sehingga sempat pula mengancam keberagaman dan kebebasan. Ketika lembaga-lembaga sosial pampat dan tidak mampu memberi alternatif solusi atas masalah-masalah bersama, politik malah direduksi menjadi persoalan siapa mendapat apa.

    Mencandrakan krisis politik dalam “Demokrasi Kita”, Hatta menyebut bahwa demokrasi dapat berjalan baik apabila ada rasa tanggung jawab dan toleransi pada diri pemimpin-pemimpin politik. Dua hal tersebut terkesan absen persis manakala banyak orang dibuai seremoni pesta demokrasi, yang justru lupa dengan syarat-syarat mendasar keberlangsungannya.

    Bersama kesadaran politik massa, tanggung jawab dan toleransi elite adalah energi terpenting demokrasi yang terlihat cenderung melemah saat ini. Tantangan demokrasi kontemporer adalah mengembalikan keduanya untuk memulihkan daya dukung permusyawaratan rakyat agar esensi demokrasi tidak terpenjara oleh kontestasi kekuasaan.

    Melambungkan spirit Hatta dan menalikannya pada tujuan baru, akan menambah dorongan progresif pada politik nasional. Lebih daripada sekadar menghafal biografi Hatta, tugas tersebut akan turut membuat pemahaman sejarah menjadi kontekstual. Harapan pokoknya, politik nasional tidak akan lelah melahirkan negarawan, bukan sekadar pemburu kekuasaan.

    Sumber: BeritaSatu

  • Forum Hatta Muda: untuk Negeriku (3)

    Forum Hatta Muda: Untuk Negeriku (3) ini mengisahkan perjalanan masa muda Bung Hatta saat hendak melanjutkan pendidikan ke Betawi (Jakarta). Sebelum berangkat, beliau mendapatkan nasihat yang sangat mendalam dari Ayah Gaek mengenai pentingnya memegang teguh ajaran agama Islam, di mana ibadah dan amal harus berjalan beriringan serta tidak boleh dipisahkan. Nasihat tersebut menjadi bekal moral yang membentuk karakter Bung Hatta dalam menghadapi tantangan di masa depan.

    Dalam perjalanannya menggunakan kapal dari Teluk Bayur, terdapat sebuah peristiwa menarik ketika seorang residen Belanda bernama Lebre menghentikan pelayaran demi mendistribusikan cadangan beras bagi masyarakat lokal, yang menunjukkan sisi sosialis sang residen di tengah dinamika politik kolonial. Sesampainya di Betawi, Bung Hatta mendaftar di Prince Hendrick School dan mendapatkan dukungan penuh dari kerabatnya, Et Ayub, yang membiayai seluruh kebutuhan pendidikannya. Di masa inilah beliau mulai berkenalan dengan buku-buku berbobot, termasuk literatur tentang sosialisme yang memperluas wawasan intelektualnya. Beliau juga menunjukkan kedisiplinan luar biasa dalam membagi waktu antara membaca buku berat di malam hari dan karya sastra di waktu senggang.

    Kisah ini sangat inspiratif karena memperlihatkan bagaimana nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan rasa haus akan pengetahuan telah dipupuk sejak dini dalam diri tokoh proklamator kita. Untuk memahami lebih dalam bagaimana pengalaman masa muda ini membentuk pemikiran Bung Hatta yang nantinya berpengaruh besar bagi bangsa Indonesia, Anda sangat disarankan untuk menyaksikan video ini secara lengkap hingga akhir.

  • Forum Hatta Muda: untuk Negeriku (2)

    Mari kita menyelami masa muda Mohammad Hatta melalui buku autobiografinya, Untuk Negeriku. Setelah menuntaskan pendidikan dasarnya di Bukittinggi, Bung Hatta kemudian melanjutkan studinya di Mulo, Padang, sebuah langkah penting yang membuka cakrawala pemikirannya. Di masa inilah, beliau mulai belajar tentang arti penting berorganisasi melalui pertemanan akrabnya dengan Engku Tahir Marah Sultan.

    Melalui keterlibatannya sebagai sekretaris di Serikat Usaha bersama Engku Tahir, Bung Hatta belajar bahwa aktivitas sosial dan organisasi bukan sekadar pengisi waktu, melainkan sarana berharga untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan komunikasi. Beliau menekankan pentingnya semangat bekerja tanpa pamrih dalam sebuah organisasi, yang pada akhirnya memberikan manfaat besar bagi perkembangan mental dan karakter seseorang.

    Selain pengalaman organisasi, Bung Hatta juga mulai mencerna pemikiran Islam yang lebih progresif dan terbuka. Beliau banyak mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh pembaru seperti Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani. Prinsip yang beliau pegang adalah pentingnya bagi umat Islam untuk terus belajar, bersikap modern, dan tidak menutup diri dari kemajuan zaman, tanpa harus kehilangan identitas atau kemurnian agamanya.

    Memasuki fase akhir pembahasan, keterlibatan Bung Hatta dalam berbagai gerakan kepemudaan, seperti menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond cabang Padang, menjadi titik awal yang krusial dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme beliau. Perjalanan masa muda ini memberikan fondasi yang kuat bagi perannya di masa depan sebagai salah satu tokoh utama bangsa. Simak kisah lengkap perjuangan dan inspirasi beliau dengan menonton video ini hingga tuntas.

  • Forum Hatta Muda: untuk Negeriku (1)

    Mengupas napak tilas kehidupan masa muda Bung Hatta yang dirangkum dari buku biografinya yang berjudul Untuk Negeriku. Penjelasan dimulai dari latar belakang keluarga beliau di Bukittinggi yang dikenal sebagai keturunan ulama besar, hingga pembentukan karakter beliau melalui peristiwa-peristiwa bersejarah di Minangkabau . Dalam pembahasan ini, ditekankan bagaimana Bung Hatta memandang pentingnya perdamaian dan kearifan lokal, serta bagaimana beliau mulai memahami konsep nasionalisme setelah menyaksikan ketidakadilan yang menimpa tokoh yang dihormati keluarganya akibat peristiwa Perang Kamang pada tahun 1908. Narasi ini juga menyoroti harmoni antara pendidikan sekuler yang ditempuh Bung Hatta di sekolah Belanda dengan pendidikan agama yang tetap kokoh ia dapatkan sejak kecil, yang nantinya membentuk sosok pemimpin dengan perpaduan pemikiran modern dan nilai-nilai religius yang mendalam.

    Perjalanan hidup sang proklamator ini mengandung banyak pelajaran berharga tentang bagaimana sejarah dan lingkungan membentuk visi seorang negarawan besar. Masih banyak aspek menarik lainnya dari perjalanan beliau, terutama mengenai dinamika masa sekolah beliau di Jakarta dan pengembaraan ilmu ke Rotterdam yang akan dibahas pada bagian selanjutnya. Sangat disarankan bagi Anda untuk menyaksikan video ini secara lengkap agar dapat memahami lebih utuh bagaimana jejak langkah Bung Hatta menjadi fondasi bagi semangat kebangsaan kita hari ini.

  • Forum Hatta Muda: Prolog

    Sebuah prolog hangat yang disampaikan oleh Prof. Dr. Maizar Rahman kepada para alumni peserta Indonesian Student Leadership Training yang diselenggarakan oleh Hatta Aksara Project di Padang dan Bukittinggi beberapa waktu lalu. Dalam video ini, Prof. Dr. Maizar Rahman mengungkapkan rasa bangganya terhadap antusiasme, kecerdasan, dan daya kritis para peserta yang merupakan ketua OSIS dari berbagai sekolah. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan singkat selama pelatihan, beliau menginisiasi pembentukan wadah diskusi berkelanjutan yang diberi nama Forum Hatta Muda. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog yang demokratis dan inklusif bagi para aktivis muda untuk terus mengasah wawasan dan idealisme mereka.

    Prof. Dr. Maizar Rahman menekankan bahwa forum ini menjadi sangat krusial untuk menjaga semangat sosial dan idealisme generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin masa depan di era bonus demografi. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi rekan-rekan alumni untuk menyimak video prolog ini secara utuh dari awal hingga akhir guna memahami alur rencana, visi besar di balik Forum Hatta Muda, serta bagaimana cara berpartisipasi aktif dalam sesi diskusi mendatang. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk terus belajar dan bertumbuh bersama demi memberikan dampak positif bagi bangsa.

  • PRESS RELEASE

    Yayasan Proklamator Bung Hatta Gandeng KMP Aryadhana Kembangkan Swarapedia.id sebagai Lumbung Budaya Digital Berwawasan Kebangsaan berbasis Blockchain.*

    Jakarta, 20 September 2024 – Dalam langkah strategis untuk melestarikan nilai-nilai luhur bangsa serta mendorong kemajuan dan kedaulatan digital di Indonesia, Yayasan Proklamator Bung Hatta (YPBH) hari ini resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan KMP Aryadhana. Kerjasama ini bertujuan untuk membangun dan mengembangkan Swarapedia.id, sebuah platform digital inovatif berbasis blockchain yang akan menjadi lumbung budaya digital berwawasan kebangsaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

    Penandatanganan MoU dilakukan secara langsung oleh Prof. Dr. Maizar Rahman, Ketua Umum YPBH dan Prof. Dr. Ahmad Subagyo, Ketua Umum KMP Aryadhana. Acara penting ini disaksikan pula oleh Ir. Ezrinal Azis MSc, Sekretaris Umum YPBH, dan Widyanto, S.E, M.M. Sekretaris Umum KMP Aryadhana.

    Swarapedia.id, sebuah nama yang dipilih dengan penuh makna, merepresentasikan sebuah wadah bagi suara (swara) sekaligus ensiklopedia (pedia) seluruh rakyat Indonesia. “Swara” sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti suara atau bunyi. Pemilihan nama ini mengandung filosofi yang mendalam, yaitu bahwa setiap setiap individu memiliki hak untuk menyuarakan pikiran, ide, dan kreativitasnya. Platform ini tidak hanya menjadi jembatan masa lalu menuju masa depan, namun juga menjadi jantung pergerakan moral bangsa untuk kembali kepada jati dirinya.

    Maizar Rahman menyatakan, “Kami sangat bangga dapat menginisiasi proyek Swarapedia.id. Platform ini sejalan dengan visi Yayasan Proklamator Bung Hatta untuk melestarikan nilai-nilai luhur bangsa dan membangun generasi muda yang berkarakter mulia dan berbudi luhur. Dengan adanya Swarapedia.id, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Sementara Ahmad Subagyo menyatakan bahwa KMP Aryadhana merasa terhormat dapat menjadi mitra strategis Yayasan Proklamator Bung Hatta dalam mengembangkan Swarapedia.id. “Kami akan mengerahkan seluruh sumber daya dan teknologi kami untuk membangun platform yang inovatif, ramah pengguna, dan berdampak bagi masyarakat. Dengan basis teknologi blockchain, Swarapedia.id akan memberikan pengalaman yang unik bagi pengguna, mulai dari keamanan data hingga peluang untuk menciptakan ekonomi digital yang baru.”

    *Swarapedia.id dan Fitur Unggulannya:*

    Swarapedia.id menawarkan berbagai fitur unggulan, antara lain:

    – *Lumbung Budaya Digital:* Menyediakan ruang bagi berbagai karya kreatif, mulai dari tulisan, seni, musik, hingga desain.

    – *Teknologi Blockchain:* Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, Swarapedia.id menawarkan fitur-fitur inovatif seperti kepemilikan konten yang terdesentralisasi, transparansi dalam sistem reward, dan potensi untuk menciptakan ekonomi digital yang baru.

    – *Komunitas yang Inklusif:* Membangun komunitas yang solid dan mendukung bagi para kreator.

    – *Fokus pada Pendidikan Karakter:* Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai moral dan karakter bangsa.

    *Rencana Kerja Sama:*

    Kerjasama antara Yayasan Proklamator Bung Hatta dan KMP Aryadhana akan fokus pada:

    – *Pengembangan Platform:* Membangun dan mengembangkan platform Swarapedia.id secara berkelanjutan.

    – *Pengisian Konten:* Mengisi platform dengan konten-konten berkualitas yang bernilai edukasi dan inspiratif.

    – *Pemasaran dan Promosi:* Memperkenalkan Swarapedia.id kepada masyarakat luas.

    – *Kemitraan dengan Stakeholder:* Membangun kerjasama dengan berbagai pihak, seperti sekolah, universitas, komunitas kreatif, pemerintah dan dunia usaha.

    *Visi Masa Depan:*

    Swarapedia.id memiliki visi untuk menjadi platform rujukan bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Kami ingin menciptakan ekosistem digital yang sehat, produktif, dan bernilai bagi bangsa.

    Widyanto yang juga adalah praktisi tekhnologi blockchain dan web3, menyatakan bahwa teknologi blockchain adalah basis dari web3 yang merupakan loncatan baru di bidang teknologi yang akan punya pengaruh sangat besar menyangkut aspek pendidikan, budaya dan juga bisnis. Jika Web1 kita hanya bisa membaca (read), Web2 kita bisa membaca dan menulis (read & write) dan berinteraksi sehingga memunculkan Medsos, maka Web3 selain read and write kita juga bisa memiliki privasi data (read, write & own) dan memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan termasuk untuk transaksi. Hal ini karena sifatnya yang terdesentralisasi, aman dan juga transparan.

    Ezrinal Azis yang juga adalah Ketua Umum Koperasi Jasa Industri Rakyat Mandiri menyatakan akan memanfaatkan portal ini untuk mengembangkan industri rakyat dan mensinergikannya dengan berbagai pihak terutama para investor. 

    MoU ini akan segera ditindak lanjuti dengan perjanjian kerjasama dalam waktu dekat, guna percepatan pengembangan platform dimaksud.